Betapa Bodohnya Orang yang Menggantungkan Bisnisnya pada Utang
Uang seringkali dijadikan tumpuan utama dalam membangun wirausaha mandiri. Ada uang, usaha siap dirintis. Tak ada uang orang enggan melangkah. Fenomena ini sangat lumrah. Menyentuh segala lini. Baik di lingkup usaha mikro kecil menengah maupun di kalangan wirausaha skala besar.
Namun tak jarang kaum pebisnis pemula mengandalkan uang pinjaman sebagai modal awalnya. Entah dari bank, koperasi, rentenir atau pun pinjaman lainnya.
Padahal uang pinjaman itu adalah hutang yang wajib dibayar. Sedangkan penghasilan dari bisnis yang dijalankan belum pasti berbuah selaras dengan harapan. Maka dari itu, bisnis yang menggantungkan pada pinjaman tak akan pernah lepas dari jeratan masalah. “Itu namanya membayar kepastian dengan ketidakpastian,” tandas Founder Syareaworld, Samsul Arifin
Menurutnya hutang tak ubahnya bahaya laten yang mengincar setiap kegalauan dan kelemahan kaum pebisnis, terutama pemula. Utang, kata dia, memiliki tabiat buruk, yakni ada kecenderungan bertambah di momen tertentu tanpa diduga.
Begitu jumlah utangnya bertambah, beban perusahaan pun otomatis melonjak. Lonjakan hutang itu akan menurun perlahan jika perusahaan tersebut mampu bayar. Jika tidak, pelaku wirausaha tinggal bersiap menanggung pahitnya beban utang tanpa bisa menghindar secelah pun.
Lebih dalam ia menekankan bahwa bisnis adalah wilayah ketidakpastian laba. Adakalanya untung besar, kadang juga didera kerugian yang berujung bangkrut. Maka dari itu, kata dia, betapa bodohnya orang yang niatnya ingin sukses berbisnis sementara di garis start bisnisnya, sudah punya tabungan utang. “Ingat, esensi bisnis adalah teknik atau kemampuan selling, penjualan. Itu yang harus dipelajari. Kalau ngutang mah gak usah dipelajari. Semua orang bisa,” tandasnya.
Artikel keren lainnya:
Belum ada tanggapan untuk "Betapa Bodohnya Orang yang Menggantungkan Bisnisnya pada Utang"
Posting Komentar